Yunan : sebagai anak bandel
Adiel : sebagai anak bandel
Shifa : kakak yang baik suka menasehati
Ayu : ibu yang sabar terhadap anak-anaknya
Tema : Kesadaran Anak Durhaka
Judul : Asalkan Kaya
Terdapat sebuah keluarga yang
kehidupannya sangatlah sederhana. Keluarga yang terdiri atas seorang ibu yang
sering sakit-sakitan, ibu yang kesehariannya hanya bekerja apa saja untuk
anaknya, yaitu untuk dua orang anak perempuan dan seorang anak lelaki. Meskipun
ketiga anak tersebut terlahir oleh satu rahim dan satu darah, namun mereka
memiliki watak yang sangat berbeda. Dan ketiga anaknya tersebut masih duduk
dibangku SMP
Pada
suatu hari Yunan, Shifa dan Adiel mau
berangkat ke sekolah
Ayu : (Sambil menjahit
bajunya anaknya yang sedang sobek) Nak, kalau sudah pulang sekolah,
langsung pulang saja ya!
langsung pulang saja ya!
Yunan : Buat apa sih bu cepat pulang?
Ibu : Nak kita semua harus sadar nak kalau kita ini miskin.
Yunan : Terus? Apa hubungannya dengan kita yang harus cepat pulang?
Ibu :
Nak hidup kita berbeda dengan yang lainnya jadi kita harus keja keras.
Adiel : Hey, ibu kita miskin, salah siapa? Salah saya? Makanya
ibu itu kerjanya jangan cuma sakit
terus.
terus.
(tiba-tiba
datang Shifa)
Shifa : Del, kamu jangan begitu. Kita seharusnya bersyukur masih
punya ibu yang sayang sama kita. Diluar sana masih banyak anak yang tidak
mempunyai ibu.
Yunan : Tapi hidup mereka tidak seperti kita kan? Kita ini apa? Miskin?
Terus bu, aku malu, bu dengan hidup yang seperti ini. Tinggal di gubung, tak
ada barang berharga, dan berlantaikan tanah.
Adiel : Aku malu sama teman-temen, bu! Nanti aku bisa-bisa di bully
lagi.
Shifa : Kenapa mesti malu. Meskipun kita miskin harta, tapi kita
masih kaya dengan punya orang
tua yang masih sayang sama anaknya. Kamu harus sadar itu.
tua yang masih sayang sama anaknya. Kamu harus sadar itu.
Yunan : Percuma punya orang tua kalau tidak bisa membuat anaknya
bahagia.
(ibunya
sambil memegang dada menahan sakit serta manarik nafas panjang mendengar itu
semua sembari
merintih dan duduk di kursi)
Ibu
: Sudah, sudah cepat siap-siap nanti terlambat. Tunggu ya nak. Ibu siapkan
sarapan dulu
supaya nanti tidak kelaparan.
supaya nanti tidak kelaparan.
(sang ibu
menyiapkan makanan)
Shifa : Del, kamu tidak boleh seperti itu sama ibu. Jangan sampai air
mata ibu menetes karena kata
kata kamu.
kata kamu.
Adiel : Memangnya apa yang salah dengan perkataamku tadi, hah? Aku
hanya malu sama teman
teman. Mereka semua hanya mau bergabung sama orang kaya. Jadi, ya saya tepaksa bohong
saja kalau saya ini anak orang kaya. Gampang, iya nggak?
teman. Mereka semua hanya mau bergabung sama orang kaya. Jadi, ya saya tepaksa bohong
saja kalau saya ini anak orang kaya. Gampang, iya nggak?
Shifa : Astagfirullah Del, menurutmu, lebih menyenangkan teman atau
orang tua? Kalau memang
mereka tidak mau berteman dengan orang miskin, berarti mereka tidak tulus dengan
kamu
mereka tidak mau berteman dengan orang miskin, berarti mereka tidak tulus dengan
kamu
Adiel : Udah deh
kak. Namun kenyataanya mereka dapat membuat aku senang dan bahkan
melupakan penderitaanku ketika aku berada di rumah. Ditambah lagi, di sini ibu sakit-sakitan
tak jelas gitu.
Ihhh bisa stress aku kalau itu trus ada dipikiranku.
melupakan penderitaanku ketika aku berada di rumah. Ditambah lagi, di sini ibu sakit-sakitan
tak jelas gitu.
Ihhh bisa stress aku kalau itu trus ada dipikiranku.
Ayu :
Nak sarapan dulu baru berangkat.
Yunan :
(melihat makanan) makanan apaan
ini? Bagaimana anaknya bisa cerdas kalau makanannya
setiap hari begini terus. Tempe goreng dan ikan asin terus tanpa ada sayur lagi.
setiap hari begini terus. Tempe goreng dan ikan asin terus tanpa ada sayur lagi.
Shifa : Hih, seharusnya kamu itu bersyukur kita bisa makan hari ini.
Kalau kita ikhlas pasti semuanya
akan terasa enak.
akan terasa enak.
Yunan : Kamu juga sok tahu sekali sih shif? Akh, gimana kalau kita makannya di luar saja. Bu, ada
duit enggak?
duit enggak?
Ayu : Ini sisa uang ibu setelah kemarin semalaman bekerja. Ini
untuk beli obat ibu dan keperluamu nanti.
Adiel : Obat lagi, obat lagi. bu yang mana ibu pentingkan? Yang sehat
jadi sakit atau yang sakit tidak sembuh-sembuh juga meskipun minum obat tiap
hari?
Ayu :
Nak, mana ada seorang ibu membiarkan anaknya sakit? Tidak ada nak.
Yunan : Nah itu baru seorang ibu. Kalau begitu bu mana uangnya?
Adiel : Nah gitu dong. Kan enak kalau kita damai. Iya nggak?
Shifa : Yun, kamu ini tidak punya perasaan sekali. Ibu butuh obat.
Yunan : Iyayayahh saya tahu. Tapi saya butuh makan. Kalau begitu saya
berangkat dulu.
Ibu : Hati-hati ya nak!
Adiel : Oke daaaaa..
Shifa :
Bu sabar ya bu. Sebenarnya mereka berdua itu baik, hanya saja dia belum bisa
terima
keadaan.
keadaan.
Ayu :
Nak maafkan ibu karena tidak bisa membuat kalian bahagia.
Shifa : Sssssttttt...ibu bagi saya ibu yang sangat baik dan menurut
saya ibu adalah seorang pahlawan. Ibu sudah kerja keras hanya saja Allah belum membuka
rejeki untuk kita. Jadi, ibu jangan bersedih yah. Ibu tau nggak kalau ibu itu
cantik. Ibu itu sangat cantik kalau ibu tersenyum. Ayo dong bu senyum.
Ayu :
Iya ya dasar anak nakal. Nah ibu senyum. Nah sekarang kamu berangkat. Hati-hati
nak.
(Setelah
Adiel dan Yunan pulang sekolah)
Adiel : Bu makan, bu! Cepat!
Ayu :
Sebentar, nak! Ibu harus bekerja dulu. Tolong bantu ibu.
Yunan : Ayo, bu kami lapar.
Ayu :
Astaghfirullah, kalian berdua ini, tolong pandanglah garis perekonomian kita.
Sudah berkali-kali ibu katakan, kita harus bekerja keras untuk mendapatkan uang
lebih, nak!
Adiel : Bu, kapan kita kaya. Dari dulu hidup kita gini-gini aja
terus, nggak ada sama sekali perkembangan. Bosen titik.
Ayu :
Ibu akan lakukan apa saja demi kalian. Jika kalian malas bekerja, akan ibu
lakukan sendiri, namun jangan ganggu ibu.
(Petang
hari seusai Salat Maghrib)
Yunan : Bu, mataku sakit. Kenapa enggak pakai listrik aja. Kenapa
harus pakai lampu teplok sih.
Shifa : Syukuri aja deh nggak usah banyak omong.
Ayu :
Kalian berdua! Khususnya kamu,Yunan dan Adiel. Kalian tahukan jika kalian
durhaka dengan ibu kalian bisa masuk neraka?
Adiel : Hah, kita durhaka? Maksudnya?
Ayu :
Janganlah kau ulangi lagi sering membentak-bentak ibu, membantah setiap per
kataan
ibumu ini. Bukannya ibu enggak terima tapi Tuhan yang tidak terima, Nak!
Adiel : Salahnya ibu sendiri tidak bisa mengikuti kemauan kami
Ayu :
Kalian berdua saja yang berlagak hidup mewah. Hiduplah dengan sederhana, nanti
kalian juga akan terbiasa. Contohlah kakakmu ini.
Shifa : Jika kalian tidak ingin terus menerus dibelenggu kehidupan
yang sempit ini, belajar dan bekerjalah.
Yunan : Bu bagaimana kita bisa kaya? Akan aku lakukan semuanya agar
menjadi kaya.
Adiel : Iya benar. Hmmm… Aku pernah bermimpi memiliki rumah mewah, mobil,
helicopter, jalan-jalan ke Korea, punya sopir pribadi. Ah, namun, itu hanya
mimpi. Sayang
Yunan : Hahaha, Cuma mimpi, makanya jangan tidur terus. Iya, ya bu
gimana caranya kita bisa kaya?
Ayu :
Benar kata kakakmu. Kalian harus giat bekerja, nerdoa, dan jangan lupa untuk
berdoa sepanjang waktu. Karena suksenya kalian di waktu depan hanya Allah yang
menentukan.
Adiel : Ya kalau gitu kita nggak usah melakukan keduanya. Kita cuma
terus berdoa aja biar Allah memberi kita rezeki lebih.
Shifa : Ya enggak bisa gitu dong. Oh, ya, kalau kamu ingin kaya, kamu
juga harus patuh dengan ibu.
Adiel : Kok bisa? Apa hubungannya kaya sama ibu? Ibu aja tidak bisa
memberikan kita kenikmatan duniawi.
Shifa : Ya kan surga ada ditelapak kaki ibu. Kalian berdua ingin
dapat surga tidak? Mungkin kita belum bahagia sekarang. Tapi Allah itu adil
kok, tenang aja
Yunan : Hmmm, jika hal itu dapat menjadikanku kaya aku akan
melakukannya
Adiel : Okelah kalau gitu. Mulai dari sekarang kita akan mengubah
semua perilaku buruk yang pernah kulakukan selama ini. Dan berusaha agar tambah
rajin belajar, bekerja berjualan, dan menyayangi ibu serta tidak membantah
setiap perkataan ibu
Shifa : Iya kami juga berjanji bila kami sudah kaya nanti, kami akan
menjunjung tinggi nama ibu tak pernah terlupakan
Ayu :
Kalian janji?
Yunan : Iya kami janji
Ayu :
Baiklah, ibumu ini akan mendoakan agar kalian cepat kaya dan cepat
membahagiakan ibumu ini yang semakin waktu semakin tua. Ibu akan bangga dengan
kalian…
Akhir kisah, karena kedua anak itu berniat
agar dapat membahagiakan ibundanya dan sukses di kemudian hari. Mereka bertiga,
bukan, khususnya Adiel dan Yunan berjanji akan mengubah sikap mereka agar lebih
dewasa. Dan seiring waktu yang bergulir itu, mereka bertiga menjalani hidup
yang diimpi-impikan. Doa ibu terkabulkan dan merekapun hidup dengan sukses. Mereka
dapat membahagiakan ibunya hingga akhir hayat. Akhir kata, sekian drama singkat
dari kelompok kami . Terima kasih perhatiannya.
Pena oleh : Octavia Adiel Permata
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar