Minggu, 25 Oktober 2015

Drama Singkat



Yunan    : sebagai anak bandel
Adiel     : sebagai anak bandel
Shifa      : kakak yang baik suka menasehati
Ayu       : ibu yang sabar terhadap anak-anaknya

Tema    : Kesadaran Anak Durhaka
Judul    : Asalkan Kaya

Terdapat sebuah keluarga yang kehidupannya sangatlah sederhana. Keluarga yang terdiri atas seorang ibu yang sering sakit-sakitan, ibu yang kesehariannya hanya bekerja apa saja untuk anaknya, yaitu untuk dua orang anak perempuan dan seorang anak lelaki. Meskipun ketiga anak tersebut terlahir oleh satu rahim dan satu darah, namun mereka memiliki watak yang sangat berbeda. Dan ketiga anaknya tersebut masih duduk dibangku SMP

Pada suatu hari Yunan, Shifa dan Adiel  mau berangkat ke sekolah
Ayu        : (Sambil menjahit bajunya anaknya yang sedang sobek) Nak, kalau sudah pulang sekolah,
              langsung pulang saja ya!
Yunan     : Buat apa sih bu cepat pulang?
Ibu          : Nak kita semua harus sadar nak kalau kita ini miskin.
Yunan      : Terus? Apa hubungannya dengan kita yang harus cepat pulang?
Ibu          : Nak hidup kita berbeda dengan yang lainnya jadi kita harus keja keras.
Adiel       : Hey, ibu kita miskin, salah siapa? Salah saya?  Makanya ibu itu kerjanya jangan cuma sakit
                      terus.
(tiba-tiba datang Shifa)
Shifa       : Del, kamu jangan begitu. Kita seharusnya bersyukur masih punya ibu yang sayang sama    kita. Diluar sana masih banyak anak yang tidak mempunyai ibu.
Yunan     : Tapi hidup mereka tidak seperti kita kan? Kita ini apa? Miskin? Terus bu, aku malu, bu dengan hidup yang seperti ini. Tinggal di gubung, tak ada barang berharga, dan berlantaikan tanah.
Adiel       : Aku malu sama teman-temen, bu! Nanti aku bisa-bisa di bully lagi.
Shifa       : Kenapa mesti malu. Meskipun kita miskin harta, tapi kita masih kaya dengan punya orang
                   tua yang masih sayang sama anaknya. Kamu harus sadar itu.
Yunan     : Percuma punya orang tua kalau tidak bisa membuat anaknya bahagia.
         (ibunya sambil memegang dada menahan sakit serta manarik nafas panjang mendengar itu semua sembari merintih dan duduk di kursi)
Ibu          : Sudah, sudah cepat siap-siap nanti terlambat. Tunggu ya nak. Ibu siapkan sarapan dulu
                   supaya nanti tidak kelaparan.
                                  (sang ibu menyiapkan makanan)
Shifa       : Del, kamu tidak boleh seperti itu sama ibu. Jangan sampai air mata ibu menetes karena kata
                  kata kamu.
Adiel       : Memangnya apa yang salah dengan perkataamku tadi, hah? Aku hanya malu sama teman
                  teman. Mereka semua hanya mau bergabung sama orang kaya. Jadi, ya saya tepaksa bohong
                  saja kalau saya ini anak orang kaya. Gampang, iya nggak?
Shifa       : Astagfirullah Del, menurutmu, lebih menyenangkan teman atau orang tua? Kalau memang
                    mereka tidak mau berteman dengan orang miskin, berarti mereka tidak tulus dengan
                   kamu          
Adiel      : Udah deh kak. Namun kenyataanya mereka dapat membuat aku senang dan bahkan
              melupakan penderitaanku ketika aku berada di rumah. Ditambah lagi, di sini ibu sakit-sakitan
              tak jelas gitu.
             Ihhh bisa stress aku kalau itu trus ada dipikiranku.
Ayu        : Nak sarapan dulu baru berangkat.
    Yunan      : (melihat makanan) makanan apaan ini? Bagaimana anaknya bisa cerdas kalau makanannya
                      setiap hari begini terus. Tempe goreng dan ikan asin terus tanpa ada sayur lagi.
Shifa     : Hih, seharusnya kamu itu bersyukur kita bisa makan hari ini. Kalau kita ikhlas pasti semuanya
                  akan terasa enak.
Yunan     : Kamu juga sok tahu sekali sih shif? Akh, gimana kalau kita makannya di luar saja. Bu, ada
                   duit enggak?
Ayu        : Ini sisa uang ibu setelah kemarin semalaman bekerja. Ini untuk beli obat ibu dan keperluamu   nanti.
Adiel    : Obat lagi, obat lagi. bu yang mana ibu pentingkan? Yang sehat jadi sakit atau yang sakit tidak sembuh-sembuh juga meskipun minum obat tiap hari?
Ayu        : Nak, mana ada seorang ibu membiarkan anaknya sakit? Tidak ada nak.
Yunan     : Nah itu baru seorang ibu. Kalau begitu bu mana uangnya?
Adiel       : Nah gitu dong. Kan enak kalau kita damai. Iya nggak?
Shifa       : Yun, kamu ini tidak punya perasaan sekali. Ibu butuh obat.
Yunan     : Iyayayahh saya tahu. Tapi saya butuh makan. Kalau begitu saya berangkat dulu.
Ibu          : Hati-hati ya nak!
Adiel       : Oke daaaaa..

  Shifa         : Bu sabar ya bu. Sebenarnya mereka berdua itu baik, hanya saja dia belum bisa terima
                        keadaan.
Ayu        : Nak maafkan ibu karena tidak bisa membuat kalian bahagia.
Shifa     : Sssssttttt...ibu bagi saya ibu yang sangat baik dan menurut saya ibu adalah seorang pahlawan. Ibu sudah kerja keras hanya saja Allah belum membuka rejeki untuk kita. Jadi, ibu jangan bersedih yah. Ibu tau nggak kalau ibu itu cantik. Ibu itu sangat cantik kalau ibu tersenyum. Ayo dong bu senyum.
Ayu        : Iya ya  dasar anak nakal. Nah ibu senyum. Nah sekarang kamu berangkat. Hati-hati nak.
                                                   (Setelah Adiel dan Yunan pulang sekolah)
Adiel       : Bu makan, bu! Cepat!
Ayu        : Sebentar, nak! Ibu harus bekerja dulu. Tolong bantu ibu.
Yunan     : Ayo, bu kami lapar.
Ayu    : Astaghfirullah, kalian berdua ini, tolong pandanglah garis perekonomian kita. Sudah berkali-kali ibu katakan, kita harus bekerja keras untuk mendapatkan uang lebih, nak!
Adiel   : Bu, kapan kita kaya. Dari dulu hidup kita gini-gini aja terus, nggak ada sama sekali perkembangan. Bosen titik.
Ayu        : Ibu akan lakukan apa saja demi kalian. Jika kalian malas bekerja, akan ibu lakukan sendiri, namun jangan ganggu ibu.
                                                                           (Petang hari seusai Salat Maghrib)
Yunan     : Bu, mataku sakit. Kenapa enggak pakai listrik aja. Kenapa harus pakai lampu teplok sih.
Shifa       : Syukuri aja deh nggak usah banyak omong.
Ayu     : Kalian berdua! Khususnya kamu,Yunan dan Adiel. Kalian tahukan jika kalian durhaka dengan ibu kalian bisa masuk neraka?
Adiel       : Hah, kita durhaka? Maksudnya?
Ayu        : Janganlah kau ulangi lagi sering membentak-bentak ibu, membantah setiap per
            kataan ibumu ini. Bukannya ibu enggak terima tapi Tuhan yang tidak terima, Nak!
Adiel       : Salahnya ibu sendiri tidak bisa mengikuti kemauan kami
Ayu        : Kalian berdua saja yang berlagak hidup mewah. Hiduplah dengan sederhana, nanti kalian juga akan terbiasa. Contohlah kakakmu ini.
Shifa       : Jika kalian tidak ingin terus menerus dibelenggu kehidupan yang sempit ini, belajar dan bekerjalah.
Yunan     : Bu bagaimana kita bisa kaya? Akan aku lakukan semuanya agar menjadi kaya.
Adiel       : Iya benar. Hmmm… Aku pernah bermimpi memiliki rumah mewah, mobil, helicopter, jalan-jalan ke Korea, punya sopir pribadi. Ah, namun, itu hanya mimpi. Sayang
Yunan     : Hahaha, Cuma mimpi, makanya jangan tidur terus. Iya, ya bu gimana caranya kita bisa kaya?
Ayu        : Benar kata kakakmu. Kalian harus giat bekerja, nerdoa, dan jangan lupa untuk berdoa sepanjang waktu. Karena suksenya kalian di waktu depan hanya Allah yang menentukan.
Adiel       : Ya kalau gitu kita nggak usah melakukan keduanya. Kita cuma terus berdoa aja biar Allah memberi kita rezeki lebih.
Shifa       : Ya enggak bisa gitu dong. Oh, ya, kalau kamu ingin kaya, kamu juga harus patuh dengan ibu.
Adiel       : Kok bisa? Apa hubungannya kaya sama ibu? Ibu aja tidak bisa memberikan kita kenikmatan duniawi.
Shifa       : Ya kan surga ada ditelapak kaki ibu. Kalian berdua ingin dapat surga tidak? Mungkin kita belum bahagia sekarang. Tapi Allah itu adil kok, tenang aja
Yunan     : Hmmm, jika hal itu dapat menjadikanku kaya aku akan melakukannya
Adiel       : Okelah kalau gitu. Mulai dari sekarang kita akan mengubah semua perilaku buruk yang pernah kulakukan selama ini. Dan berusaha agar tambah rajin belajar, bekerja berjualan, dan menyayangi ibu serta tidak membantah setiap perkataan ibu
Shifa       : Iya kami juga berjanji bila kami sudah kaya nanti, kami akan menjunjung tinggi nama ibu tak pernah terlupakan
Ayu        : Kalian janji?
Yunan     : Iya kami janji
Ayu        : Baiklah, ibumu ini akan mendoakan agar kalian cepat kaya dan cepat membahagiakan ibumu ini yang semakin waktu semakin tua. Ibu akan bangga dengan kalian…

Akhir kisah, karena kedua anak itu berniat agar dapat membahagiakan ibundanya dan sukses di kemudian hari. Mereka bertiga, bukan, khususnya Adiel dan Yunan berjanji akan mengubah sikap mereka agar lebih dewasa. Dan seiring waktu yang bergulir itu, mereka bertiga menjalani hidup yang diimpi-impikan. Doa ibu terkabulkan dan merekapun hidup dengan sukses. Mereka dapat membahagiakan ibunya hingga akhir hayat. Akhir kata, sekian drama singkat dari kelompok kami . Terima kasih perhatiannya.


                                                                          Pena oleh   : Octavia Adiel Permata
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar