Rembulan, Perkenankanlah Aku
Memilikinya
(sebelum hatiku yang
bengis menenggelamkan segala kenangan masa lalu. Tercampakkan tak ada makna
Setiap cerita pasti ada awal dan
ada akhir. Bagaimana dengan ceritaku? Sebuah cerita yang baru saja kumulai,
namun belum berakhir dan malah berhenti di tempat. Tapi, ada seseorang yang mulai
menceritakan kisahku lagi. Dan aku akan menjawab permintaan orang yang tidak kuketahui
ini. Jadi, ceritaku yang berhenti di tempat akhirnya dimulai lagi
Walaupun aku seorang wanita tak
ber-ibu bapa, apakah salah jika aku jatuh cinta kepadamu? Entah sejak kapan dan
dengan cara apa aku mulai suka padamu. Sungguh, aku belum pernah merasakan
gejolak ini. Mungkin terakhir sejak beberapa tahun yang lalu.
Bodoh, aku tak bisa mengingatnya.
Mungkin lebih baik aku harus segera mengingatnya. Mengingat segala kenangan
yang “mungkin” pernah kita torehkan bersama, beberapa tahun ke belakang. Tolong
bawa daku ke masa itu. Aku membutuhkan semua jawaban tersebut, agar aku tahu
siapa sebenarnya KITA
^^^
Semburat cahaya subuh menyibak
mega. Dengan nakalnya, partikel-partikel itu perlahan mengetuk daun jendela dan
ruas pintu. Embun menggeliat bangunkanku dari tidur semalam. Tumben, gema bel
serupa lonceng keberangkatan kereta api itu tak terdengar sampai ruang kerjaku,
ya… lebih tepatnya kamar tidur; apa mungkin karena tempatnya kuletakkan
tergantung di balik pintu ruang tengah? Tapi kurasa alarm itu cukup dapat
membuat shock kakek-nenek untuk
kembali merasakan bagaimananya rasanya mendapat hadiah senam jantung di pagi
hari
Dalam bayang sadarku, dengan
sedikit memaksa untuk berpikir…
“ Awal rencana… Sepertinya
kemarin malam kurancang alarm itu untuk berbunyi pukul empat, namun sekarang
matahari cukup membuat mataku rabun…
Oh tidak, sekarang pukul… Aaiisshh…”
Mata ini seketika melotot
melihat jarum jam yang terus bergulir dari detik ke detik dan telah menunjukkan
pukul enam seperempat lebih dua puluh tujuh sekon.
Dengan reflex-nya, tubuhku bagai terhempas angin cumulus nimbus yang sebentar lagi akan memasuki kawasan zona putih
dan dalam beberapa detik dengan mudahnya meluluh-lantahkan isi apartemenku di lantai
15 ini. Rasanya seperti ingin
menyelamatkan diri, badanku ini tergerak secara spontan untuk langsung berjalan
menuju kamar mandi, lalu ke kamar, kemudian ke dapur, setelah itu terdorong
menuju lift dan bergegas untuk langsung menaiki mobil ayah yang dikedarai oleh seorang
sopir pribadi.
Pagi yang cukup heboh. Hari
pertamaku masuk sekolah yang paling tak terduga; WOW, entah aku akan terlambat
atau mungkin selamat dari demo massa pak satpam yang siap sedia berjaga di gerbang
masuk sekolah baruku. Tapi mungkin aku agak dapat merasakan sedikit
ketenangan karena aku punya supir yang diketahui bernama Mas Ari ini mampu menyetarakan kehebatannya
dengan pembalap Moto GP; siapa lagi kalau bukan Marc Marquez.
Enggak juga harus
terheran-heran, penggabungan feeling dan panca indranya ini sudah menyatu sejak
beliau untuk pertama kalinya pergi mengunjungi sebuah padepokan khusus sopir-menyopir,
konon lima tahun yang lalu di kawasan pelipiran dekat pasar malam.
Dapat kalian sanjung
kebenarannya, ayahku memang cukup hebat untuk memilih seorang lelaki yang bakat
supirnya terpendam jauh di sana, sekitar 178 meter di bawah permukaan pantai
Kuta. Yah, cukup mengerikan. Tapi, kata Mas Ari; “keselamatan penumpang terjamin 92%.” Kurang 8%, iya kurang 8%
karena minusnya itu adalah kehendak Tuhan. Okey, Mas Ari, from now I will
believe you.
“Hidup Mas Ari! Long Life!!!”
***
Jalanan apartement-sekolah yang
berjarak empat kilo, dengan sempurna ditempuh selama enam menit dengan
serobotan memaksa menembus kepadatan kota metropolitan di pagi hari ini. Tidak
cukup pagi untuk para gerombolan pedagang sayur. Namun, bagi anak SMA yang
belum terbiasa sepertiku, mungkin jika aktivitas seperti ini dilakukan secara
terus-menerus, mungkin perlahan-lahan akan segera membunuhku.
Seperti yang dituturkan my honey driver, di sekolah baruku ini pun
diberlakukan sistematik kedisiplinan ketat yang melebihi kedisiplinan waktu keberangkatan
pegawai negeri sipil yang datang sambil berdansa berlenggang koran memasuki
ruangan ber-AC nya.
Karena dituntut kedatangan siswa
setiap pagi yang tidak ada kompromi itu, Itu berarti setiap keterlambatan akan
dinilai sebuah kesalahan/ pelanggaran yang berujung pada pemanggilan orang tua
siswa menghadap BK (Bimbingan Konseling). Jujur aku tidak suka mengumpulkan
point keterlambatan semacam ini. Jam 06.30 harus sampai di sekolah atau tidak
sekolah sama sekali. Yes, I know, I’m very piqued.
“Mercifully, God! I promise to
come early…” batinku merana dalam jiwa.
***
Sampailah aku di sini, di
gerbang masuk sekolah baruku. SMA Negeri 6 Bekasi, itulah nama lokasinya.
Sekolah Menengah Atas Negeri 6, sekolah yang rindang banyak ditumbuhi pohon
trembesi dan pepohonan yang lain. Cukup lebar dari sekolahku yang
dahulu. Lebih strategis tempatnya dibanding tempatku memungut ilmu satu bulan
yang lalu. Kata ayah, cukup rumit mengurus administrasi pindah sekolah beda
kota. Namun, kini semua sudah beres, tinggal aku yang perlu peka dengan adat
istiadat di sekolah ini.
Akan kumulai kisahku dari sini,
dari umurku yang masih 16 tahun, di sekolah ini, dari teman-teman yang akan
kukenali kehidupannya. Dari sini, aku harus bisa mengubah segala kepribadianku.
Cara hidupku, masa laluku. Dan berubah menjadi Naya Anindyaswari yang lebih
baik lagi.
Semoga kamu juga mendukungku,
iya kamu yang telah berjasa mengawali kisahku dan menutup kembali kisah ini
dengan sangat sempurna
***
Langkah demi langkah, kutorehkan
jejak telapak kakiku menuju kelas tempatku singgah. Aku mulai celingukan. Belum
kelas di kelas mana aku akan menetap; yang penting kelas XI dan itu pasti letakknya
di sudut sekolah lantai ke-2 dekat kantin dan lapangan basket. Akupun segera
mencari denah kelasku ini dengan sedikit; yah, sedikit susah payah.
Saat ini, banyak pasang mata
yang mulai memusatkan pandangannya pada gerak-gerikku yang agak kikuk ini.
Entah berapa banyak pasang mata yang telah terbelalak. Mungkin oleh pesonaku
yang membahana, atau mungkin tingkah laku anehku yang mulai kambuh dan tak
kusadari.
Dari belakang, tak kusangka ada
seorang perempuan yang memegang pundakku dengan keras dan cukup membuatku
terperanjat.
“Eh, elo Naya kan? Udah empat
tahun loh semenjak kepergiannya e… Eh, enggak usah dibahas. Lo kemana aja
selama ini. Gue kira gue gak bakal ketemu lo lagi. Tambah cantik deh lo!”
seringai perempuan itu yang tak sedikitpun kukenali sosoknya
“Heh? Iya, ya? Makasih.” Hanya empat
kata terakhir yang dapat kucerna dan
kalimat itu membuat aku tambah nge-fly di hadapan sesosok wanita berambut
sebahu dengan tinggi sepantaran.
“Maaf. Boleh kenalan, nama kamu
siapa? Sepertinya kamu mengenalku lebih dulu.” Tanyaku penasaran mencari jawaban
dari sebuah ruang di sudut mata bulatnya.
“Nay, lo bercanda? Lo
bener-bener gak inget? Ini gue temen se-SMP lo waktu di Bogor dulu. Terus
karena ada masalah, lo nya pergi ke lain kota untuk pindah SMP dan ninggalin
semua sahabat lu. Gue Shinta Mahesa, lu lupa sama gue?”
Dia mulai nerocos, sedangkan aku
enggak tau kebenarannya. Entah dia yang salah orang atau otakku yang lamban
mengingat tapak tilas perjalanan masa lalu, waktu itu. Dan dengan daya yang apa
adanya, aku cuma manggut-manggut bloon; dan, aku memang benar-benar bingung dan
agak sedikit migran.
Setelah kurang lebih sepuluh
menit ia membuka lebar setiap cerita baik dirinya maupun diriku, dan dari
sandiwara yang singkat ini, terdapat satu hal yang penting yaitu dia mengatakan
bahwa kita berada di kelas yang sama. I’m
so lucky.
Dia berjalan menuntunku untuk
bersama menuju ke kelas kita berdua. Kelas yang terpencil, berada di lantai teratas
pojok serta dikelilingi tempat-tempat pokok seperti sebuah mashola di sebelah
kiri, kantin di ujung gedung sebelah kanan, dan depannya terdapat lapangan
basket. Cukup banyak ruang untukku berjalan sembari mengingat dan memperhatikan
wajah-wajah asing, cewek maupun cowo semua sepertinya sebanding. Sama-sama
sinis menatapku penuh dendam.
***
Setelah kita berdua masuk, Entah
kenapa dia langsung menyambutku dengan terhormat sebagai anak pindahan. Dan
dengan gayanya yang sok kenal sok dekat, kemudian ia mulai beraksi mengenalkanku
pada teman sekelasnya setibaku berada di daun pintu kelas. Si cewe yang diketahui
bernama Shinta itupun kemudian menunjukkan bangku dimana aku harus duduk.
Yah, benar, yang kuketahui dari supir
pribadiku itu, aku menjadi siswi terakhir yang menyempurnakan siswa seisi kelas
ini. Setelah itu, SMA ini takkan menerima murid baru setelahku. Mungkin dalam
hati, sungguh bersyukurnya diriku ini.
Bangku coklat berloker ramping dengan
panjang semester dapat ditempati dua bangku ini masih belum ada yang menempati.
Entah tuannya yang belum datang atau mungkin hanya aku yang dapat dengan
luwesnya bersimpuh di mahligai baruku ini. Bangku yang cukup strategis di baris
paling ujung nomer satu dari belakang dekat jendela lantai dua.
Tidak di pelataran sekolah tidak di ruang
kelas, semua bermassa menatapku, membicarakanku, atau malah memalingkanku. Dari
pada aku pusing menatap balik mereka satu persatu, lebih baik kupasang earphone di telinga sembari mendengar
dendangan musik yang telah terisi di MP 3, kado ulang tahunku dari ayah angkat
sekitar dua tahun yang lalu ini.
Aku melamun sendiri. Bertopang
dagu menerawang jauh, berdoa nasib baik berpihak padaku. Tiba-tiba, berjalan
seorang lelaki seusia menghampiri bangku yang kutempati dan mulai tertegun
menatapku.
“Hai, pagi?” ujarnya sedikit
sesenggukan
“Hah, hai pagi juga. Ini tempat
dudukmu? Oh maaf aku telah memakainya. Aku akan mengambil bangku yang lain.”
Jawabku linglung dengan kehadirannya tiba-tiba.
“Oh tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak
keberatan untuk duduk sebangku bersamamu. Bergeserlah di bangku sebelah kiri,
aku akan menempati bangku ini.” Ucap lelaki itu dengan ramah tak mencoba
menghindariku.
“Oh, okey. Maaf. Terima kasih.
Kamu baik.” Senyumku lukiskan tanda terima kasihku padanya.
Walaupun ini masih jam 06.30,
kelas sudah terisi penuh oleh sekolompok adam dan hawa yang bergosip sembari
memperhatinkan diriku yang sedikit kaku duduk sebangku dengan cowo misterius
yang belum kuketahui nama detailnya. Karena sejauh ini kami hanya berbincang
seperlunya karena kecanggungan yang sangat mengganggu ini.
Baru kusadari, ternyata dia juga
memakai earphone berwarna putih dengan kabel coklat yang seragam
denganku. Mengapa ia menggunakannya? Apakah hal ini sudah menjadi kebiasaannya
atau entah dia memang sengaja memakainya untuk menghindari banyaknya cakap dari
teman sekelas yang mulai membicarakan kedekatan kami beberapa menit ke
belakang? Namun, tak usah terlalu dipikirkan…
***
Miss communication…
3 menit
6 menit
Dan oh tidak. Lelaki itupun
segera membuka mulut setelah sekian lama kita terjerumus dalam kata yang
disebut “kecanggungan”.
“Hai, boleh kenalan? Namaku Otniel
Kevin. Kamu bias panggil aku Kevin atau Nel saja. Bagiku kau mau memanggilku
dengan nama apa saja aku akan menerimanya. Nama kamu siapa?” Tatapannya
membuatku gugup. Tak habis pikir. Dia mengajakku bersama dan kuterima itu.
“Oh, nama kamu Kevin. Kenalin,
namaku Naya Anindyaswari. Kamu bias panggil aku Naya atau Anin saja. Aku juga
akan menerimanya, hehehe. Kalau boleh tau, kenapa selama ini kamu hanya duduk
sendiri?” Tanyaku untuk mencairkan suasana hawa yang mulai tak tertahankan.
“Oh itu, aku hanya ingin
sendiri. Aku hanya tidak suka dikerumunan orang.Tak suka keramaian. Lihatlah,
kelas kita begitu ramai walau hanya ditempati 26 orang ini. Jadi, hal ini
memaksaku untuk memakai earphone di
saat selang waktu pembelajaran akan di mulai.” Jawabnya dperpanjang.
“Kamu tidak suka keramaian?
Benar, kelas ini begitu bising. Mereka semua melototiku dan mulai
membicarakanku tanpa tahu kebenarannya. Dan sekarang kau menjadi korban dalam
situasi ini. Maafkan aku, aku berjanji selama aku menjadi teman sebangkumu, aku
tidak akan mengganggumu atau sesekali membuat gaduh. Jika kau mulai tidak
menyukaiku menjadi teman sebangku, kau dapat mengatakannya langsung padaku.”
Jelasku meyakinkannya.
“Bukan maksudku seperti itu. Di
sini aku dan kau bukan sebagai tersangka maupun korban jadi tidak ada yang
perlu salah-disalahkan.” Ucapnya bijak sesekali tersenyum padaku.
“Terima kasih banyak. Semoga
kita menjadi teman yang baik.” Ujarku singkat sembari menepis senyum tulus dari
seorang adam bernama Kevin.
***
Dentang bel pelajaran kesatu,
kedua, dan ketiga telah berakhir, saatnya istirahat pertama dimulai.
Bergerombolan anak manusia pergi melompati pintu kelas memadati seisi kantin
sambil bersenggol-senggolan berebut menjadi pemesan nomer satu.
“Hay, kamu Naya, ya? Ayo kita
pergi ke kantin, di kelas ini nggak ada yang boleh menjadi pendiam dan
penyendiri. Ikut aja sama kita-kita. Kenalin ya gue Mira, yang pake kacamata
namanya Shinta, yang pake jam kulit ini namanya Selma, yang paling ganteng ini
namanya Jacob. Dan satu lagi yang tadi jejer lu itu namanya Kevin. Kita suka
ngumpul bareng. Kalo lu-nya mau bareng main ma kita gabung aja, ini bukan genk
kok, Cuma sebuah perkumpulan anak-anak somplak. Hehehe…” Celoteh Mira sesosok
cewe berkucir kuda dengan seragam osis yang ditekuk setinggi lengan atas
bergaya tomboy dan disempurnakan dengan gigi gingsulnya yang mencolok.
Akupun menyetujui tawaran Mira
tadi untuk menjadi sekawanan bocah-bocah somplak. Terhitung dua jam sejak aku
msuk sekolah ini, mereka sudah sangat berbaur denganku yang berkepribadian
sedikit kaku. Kami berlima berjalan beriringan sambil melempar perkataan yang
saling menghibur sembari meluncur menuruni anak tangga yang terasa
berlipat-lipat ini.
Kami telah sampai di kantin yang sedari tadi dipadati adek serta kakak
kelas baruku ini. Aku hanya menuruti perintah atasan, Mira. Di manapun ia
duduk, kami berempat selalu berada di belakang membuntutinya.
Kita telah menduduki sebuah
bangku panjang dengan saling duduk berhadapan. Kemudian, Kevin mendatangi kami
ikut bergabung. Dengan sepakat memesan mi ayam enam porsi ditambah pemanis es
jerus nipis dan semangkok sambal segar. Semua orang di sini menyukainya, kecuali
diriku yang tak menyukai pedas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar