Minggu, 25 Oktober 2015

CERPENKU Bab 1






       Rembulan, Perkenankanlah Aku Memilikinya

(sebelum hatiku yang bengis menenggelamkan segala kenangan masa lalu. Tercampakkan tak ada makna




Setiap cerita pasti ada awal dan ada akhir. Bagaimana dengan ceritaku? Sebuah cerita yang baru saja kumulai, namun belum berakhir dan malah berhenti di tempat. Tapi, ada seseorang yang mulai menceritakan kisahku lagi. Dan aku akan menjawab permintaan orang yang tidak kuketahui ini. Jadi, ceritaku yang berhenti di tempat akhirnya dimulai lagi
Walaupun aku seorang wanita tak ber-ibu bapa, apakah salah jika aku jatuh cinta kepadamu? Entah sejak kapan dan dengan cara apa aku mulai suka padamu. Sungguh, aku belum pernah merasakan gejolak ini. Mungkin terakhir sejak beberapa tahun yang lalu.
Bodoh, aku tak bisa mengingatnya. Mungkin lebih baik aku harus segera mengingatnya. Mengingat segala kenangan yang “mungkin” pernah kita torehkan bersama, beberapa tahun ke belakang. Tolong bawa daku ke masa itu. Aku membutuhkan semua jawaban tersebut, agar aku tahu siapa sebenarnya KITA
                                                                     ^^^
Semburat cahaya subuh menyibak mega. Dengan nakalnya, partikel-partikel itu perlahan mengetuk daun jendela dan ruas pintu. Embun menggeliat bangunkanku dari tidur semalam. Tumben, gema bel serupa lonceng keberangkatan kereta api itu tak terdengar sampai ruang kerjaku, ya… lebih tepatnya kamar tidur; apa mungkin karena tempatnya kuletakkan tergantung di balik pintu ruang tengah? Tapi kurasa alarm itu cukup dapat membuat shock kakek-nenek untuk kembali merasakan bagaimananya rasanya mendapat hadiah senam jantung di pagi hari

Dalam bayang sadarku, dengan sedikit memaksa untuk berpikir…
“ Awal rencana… Sepertinya kemarin malam kurancang alarm itu untuk berbunyi pukul empat, namun sekarang matahari cukup membuat mataku rabun…
Oh tidak, sekarang pukul… Aaiisshh…” 

Mata ini seketika melotot melihat jarum jam yang terus bergulir dari detik ke detik dan telah menunjukkan pukul enam seperempat lebih dua puluh tujuh sekon.

Dengan reflex-nya, tubuhku bagai terhempas angin cumulus nimbus yang sebentar lagi akan memasuki kawasan zona putih dan dalam beberapa detik dengan mudahnya meluluh-lantahkan isi apartemenku di lantai 15 ini. Rasanya seperti ingin menyelamatkan diri, badanku ini tergerak secara spontan untuk langsung berjalan menuju kamar mandi, lalu ke kamar, kemudian ke dapur, setelah itu terdorong menuju lift dan bergegas untuk langsung menaiki mobil ayah yang dikedarai oleh seorang sopir pribadi. 
 
Pagi yang cukup heboh. Hari pertamaku masuk sekolah yang paling tak terduga; WOW, entah aku akan terlambat atau mungkin selamat dari demo massa pak satpam yang siap sedia berjaga di gerbang masuk sekolah baruku. Tapi mungkin aku agak dapat merasakan sedikit ketenangan karena aku punya supir yang diketahui bernama Mas Ari ini mampu menyetarakan kehebatannya dengan pembalap Moto GP; siapa lagi kalau bukan Marc Marquez
 
Enggak juga harus terheran-heran, penggabungan feeling dan panca indranya ini sudah menyatu sejak beliau untuk pertama kalinya pergi mengunjungi sebuah padepokan khusus sopir-menyopir, konon lima tahun yang lalu di kawasan pelipiran dekat pasar malam. 

Dapat kalian sanjung kebenarannya, ayahku memang cukup hebat untuk memilih seorang lelaki yang bakat supirnya terpendam jauh di sana, sekitar 178 meter di bawah permukaan pantai Kuta. Yah, cukup mengerikan. Tapi, kata Mas Ari; “keselamatan penumpang terjamin 92%.” Kurang 8%, iya kurang 8% karena minusnya itu adalah kehendak Tuhan. Okey, Mas Ari, from now I will believe you.
“Hidup Mas Ari! Long Life!!!”
***
Jalanan apartement-sekolah yang berjarak empat kilo, dengan sempurna ditempuh selama enam menit dengan serobotan memaksa menembus kepadatan kota metropolitan di pagi hari ini. Tidak cukup pagi untuk para gerombolan pedagang sayur. Namun, bagi anak SMA yang belum terbiasa sepertiku, mungkin jika aktivitas seperti ini dilakukan secara terus-menerus, mungkin perlahan-lahan akan segera membunuhku.
Seperti yang dituturkan my honey driver, di sekolah baruku ini pun diberlakukan sistematik kedisiplinan ketat yang melebihi kedisiplinan waktu keberangkatan pegawai negeri sipil yang datang sambil berdansa berlenggang koran memasuki ruangan ber-AC nya. 

Karena dituntut kedatangan siswa setiap pagi yang tidak ada kompromi itu, Itu berarti setiap keterlambatan akan dinilai sebuah kesalahan/ pelanggaran yang berujung pada pemanggilan orang tua siswa menghadap BK (Bimbingan Konseling). Jujur aku tidak suka mengumpulkan point keterlambatan semacam ini. Jam 06.30 harus sampai di sekolah atau tidak sekolah sama sekali. Yes, I know, I’m very piqued.
“Mercifully, God! I promise to come early…” batinku merana dalam jiwa.
***
Sampailah aku di sini, di gerbang masuk sekolah baruku. SMA Negeri 6 Bekasi, itulah nama lokasinya. Sekolah Menengah Atas Negeri 6, sekolah yang rindang banyak ditumbuhi pohon trembesi dan pepohonan yang lain. Cukup lebar dari sekolahku yang dahulu. Lebih strategis tempatnya dibanding tempatku memungut ilmu satu bulan yang lalu. Kata ayah, cukup rumit mengurus administrasi pindah sekolah beda kota. Namun, kini semua sudah beres, tinggal aku yang perlu peka dengan adat istiadat di sekolah ini.
Akan kumulai kisahku dari sini, dari umurku yang masih 16 tahun, di sekolah ini, dari teman-teman yang akan kukenali kehidupannya. Dari sini, aku harus bisa mengubah segala kepribadianku. Cara hidupku, masa laluku. Dan berubah menjadi Naya Anindyaswari yang lebih baik lagi. 

Semoga kamu juga mendukungku, iya kamu yang telah berjasa mengawali kisahku dan menutup kembali kisah ini dengan sangat sempurna
***


BAB 1 – Masa Orientasi Anak Pindahan


Langkah demi langkah, kutorehkan jejak telapak kakiku menuju kelas tempatku singgah. Aku mulai celingukan. Belum kelas di kelas mana aku akan menetap; yang penting kelas XI dan itu pasti letakknya di sudut sekolah lantai ke-2 dekat kantin dan lapangan basket. Akupun segera mencari denah kelasku ini dengan sedikit; yah, sedikit susah payah.

Saat ini, banyak pasang mata yang mulai memusatkan pandangannya pada gerak-gerikku yang agak kikuk ini. Entah berapa banyak pasang mata yang telah terbelalak. Mungkin oleh pesonaku yang membahana, atau mungkin tingkah laku anehku yang mulai kambuh dan tak kusadari.

Dari belakang, tak kusangka ada seorang perempuan yang memegang pundakku dengan keras dan cukup membuatku terperanjat.
“Eh, elo Naya kan? Udah empat tahun loh semenjak kepergiannya e… Eh, enggak usah dibahas. Lo kemana aja selama ini. Gue kira gue gak bakal ketemu lo lagi. Tambah cantik deh lo!” seringai perempuan itu yang tak sedikitpun kukenali sosoknya
“Heh? Iya, ya? Makasih.” Hanya empat kata terakhir yang dapat kucerna dan kalimat itu membuat aku tambah nge-fly di hadapan sesosok wanita berambut sebahu dengan tinggi sepantaran.
“Maaf. Boleh kenalan, nama kamu siapa? Sepertinya kamu mengenalku lebih dulu.” Tanyaku penasaran mencari jawaban dari sebuah ruang di sudut mata bulatnya.
“Nay, lo bercanda? Lo bener-bener gak inget? Ini gue temen se-SMP lo waktu di Bogor dulu. Terus karena ada masalah, lo nya pergi ke lain kota untuk pindah SMP dan ninggalin semua sahabat lu. Gue Shinta Mahesa, lu lupa sama gue?” 

Dia mulai nerocos, sedangkan aku enggak tau kebenarannya. Entah dia yang salah orang atau otakku yang lamban mengingat tapak tilas perjalanan masa lalu, waktu itu. Dan dengan daya yang apa adanya, aku cuma manggut-manggut bloon; dan, aku memang benar-benar bingung dan agak sedikit migran. 

Setelah kurang lebih sepuluh menit ia membuka lebar setiap cerita baik dirinya maupun diriku, dan dari sandiwara yang singkat ini, terdapat satu hal yang penting yaitu dia mengatakan bahwa kita berada di kelas yang sama. I’m so lucky

Dia berjalan menuntunku untuk bersama menuju ke kelas kita berdua. Kelas yang terpencil, berada di lantai teratas pojok serta dikelilingi tempat-tempat pokok seperti sebuah mashola di sebelah kiri, kantin di ujung gedung sebelah kanan, dan depannya terdapat lapangan basket. Cukup banyak ruang untukku berjalan sembari mengingat dan memperhatikan wajah-wajah asing, cewek maupun cowo semua sepertinya sebanding. Sama-sama sinis menatapku penuh dendam.
***
Setelah kita berdua masuk, Entah kenapa dia langsung menyambutku dengan terhormat sebagai anak pindahan. Dan dengan gayanya yang sok kenal sok dekat, kemudian ia mulai beraksi mengenalkanku pada teman sekelasnya setibaku berada di daun pintu kelas. Si cewe yang diketahui bernama Shinta itupun kemudian menunjukkan bangku dimana aku harus duduk.

 Yah, benar, yang kuketahui dari supir pribadiku itu, aku menjadi siswi terakhir yang menyempurnakan siswa seisi kelas ini. Setelah itu, SMA ini takkan menerima murid baru setelahku. Mungkin dalam hati, sungguh bersyukurnya diriku ini. 

Bangku coklat berloker ramping dengan panjang semester dapat ditempati dua bangku ini masih belum ada yang menempati. Entah tuannya yang belum datang atau mungkin hanya aku yang dapat dengan luwesnya bersimpuh di mahligai baruku ini. Bangku yang cukup strategis di baris paling ujung nomer satu dari belakang dekat jendela lantai dua. 

 Tidak di pelataran sekolah tidak di ruang kelas, semua bermassa menatapku, membicarakanku, atau malah memalingkanku. Dari pada aku pusing menatap balik mereka satu persatu, lebih baik kupasang earphone di telinga sembari mendengar dendangan musik yang telah terisi di MP 3, kado ulang tahunku dari ayah angkat sekitar dua tahun yang lalu ini. 

Aku melamun sendiri. Bertopang dagu menerawang jauh, berdoa nasib baik berpihak padaku. Tiba-tiba, berjalan seorang lelaki seusia menghampiri bangku yang kutempati dan mulai tertegun menatapku.
“Hai, pagi?” ujarnya sedikit sesenggukan
“Hah, hai pagi juga. Ini tempat dudukmu? Oh maaf aku telah memakainya. Aku akan mengambil bangku yang lain.” Jawabku linglung dengan kehadirannya tiba-tiba.
“Oh tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan untuk duduk sebangku bersamamu. Bergeserlah di bangku sebelah kiri, aku akan menempati bangku ini.” Ucap lelaki itu dengan ramah tak mencoba menghindariku.
“Oh, okey. Maaf. Terima kasih. Kamu baik.” Senyumku lukiskan tanda terima kasihku padanya.

Walaupun ini masih jam 06.30, kelas sudah terisi penuh oleh sekolompok adam dan hawa yang bergosip sembari memperhatinkan diriku yang sedikit kaku duduk sebangku dengan cowo misterius yang belum kuketahui nama detailnya. Karena sejauh ini kami hanya berbincang seperlunya karena kecanggungan yang sangat mengganggu ini.

Baru kusadari, ternyata dia juga memakai earphone berwarna putih dengan kabel coklat yang seragam denganku. Mengapa ia menggunakannya? Apakah hal ini sudah menjadi kebiasaannya atau entah dia memang sengaja memakainya untuk menghindari banyaknya cakap dari teman sekelas yang mulai membicarakan kedekatan kami beberapa menit ke belakang? Namun, tak usah terlalu dipikirkan…
***
Miss communication…
3 menit
6 menit

Dan oh tidak. Lelaki itupun segera membuka mulut setelah sekian lama kita terjerumus dalam kata yang disebut “kecanggungan”.
“Hai, boleh kenalan? Namaku Otniel Kevin. Kamu bias panggil aku Kevin atau Nel saja. Bagiku kau mau memanggilku dengan nama apa saja aku akan menerimanya. Nama kamu siapa?” Tatapannya membuatku gugup. Tak habis pikir. Dia mengajakku bersama dan kuterima itu.
“Oh, nama kamu Kevin. Kenalin, namaku Naya Anindyaswari. Kamu bias panggil aku Naya atau Anin saja. Aku juga akan menerimanya, hehehe. Kalau boleh tau, kenapa selama ini kamu hanya duduk sendiri?” Tanyaku untuk mencairkan suasana hawa yang mulai tak tertahankan.
“Oh itu, aku hanya ingin sendiri. Aku hanya tidak suka dikerumunan orang.Tak suka keramaian. Lihatlah, kelas kita begitu ramai walau hanya ditempati 26 orang ini. Jadi, hal ini memaksaku untuk memakai earphone di saat selang waktu pembelajaran akan di mulai.” Jawabnya dperpanjang.
“Kamu tidak suka keramaian? Benar, kelas ini begitu bising. Mereka semua melototiku dan mulai membicarakanku tanpa tahu kebenarannya. Dan sekarang kau menjadi korban dalam situasi ini. Maafkan aku, aku berjanji selama aku menjadi teman sebangkumu, aku tidak akan mengganggumu atau sesekali membuat gaduh. Jika kau mulai tidak menyukaiku menjadi teman sebangku, kau dapat mengatakannya langsung padaku.” Jelasku meyakinkannya.
“Bukan maksudku seperti itu. Di sini aku dan kau bukan sebagai tersangka maupun korban jadi tidak ada yang perlu salah-disalahkan.” Ucapnya bijak sesekali tersenyum padaku.
“Terima kasih banyak. Semoga kita menjadi teman yang baik.” Ujarku singkat sembari menepis senyum tulus dari seorang adam bernama Kevin.
***
Dentang bel pelajaran kesatu, kedua, dan ketiga telah berakhir, saatnya istirahat pertama dimulai. Bergerombolan anak manusia pergi melompati pintu kelas memadati seisi kantin sambil bersenggol-senggolan berebut menjadi pemesan nomer satu.
“Hay, kamu Naya, ya? Ayo kita pergi ke kantin, di kelas ini nggak ada yang boleh menjadi pendiam dan penyendiri. Ikut aja sama kita-kita. Kenalin ya gue Mira, yang pake kacamata namanya Shinta, yang pake jam kulit ini namanya Selma, yang paling ganteng ini namanya Jacob. Dan satu lagi yang tadi jejer lu itu namanya Kevin. Kita suka ngumpul bareng. Kalo lu-nya mau bareng main ma kita gabung aja, ini bukan genk kok, Cuma sebuah perkumpulan anak-anak somplak. Hehehe…” Celoteh Mira sesosok cewe berkucir kuda dengan seragam osis yang ditekuk setinggi lengan atas bergaya tomboy dan disempurnakan dengan gigi gingsulnya yang mencolok.

Akupun menyetujui tawaran Mira tadi untuk menjadi sekawanan bocah-bocah somplak. Terhitung dua jam sejak aku msuk sekolah ini, mereka sudah sangat berbaur denganku yang berkepribadian sedikit kaku. Kami berlima berjalan beriringan sambil melempar perkataan yang saling menghibur sembari meluncur menuruni anak tangga yang terasa berlipat-lipat ini. 

Kami telah sampai di kantin  yang sedari tadi dipadati adek serta kakak kelas baruku ini. Aku hanya menuruti perintah atasan, Mira. Di manapun ia duduk, kami berempat selalu berada di belakang membuntutinya.
Kita telah menduduki sebuah bangku panjang dengan saling duduk berhadapan. Kemudian, Kevin mendatangi kami ikut bergabung. Dengan sepakat memesan mi ayam enam porsi ditambah pemanis es jerus nipis dan semangkok sambal segar. Semua orang di sini menyukainya, kecuali diriku yang tak menyukai pedas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar